(Fiksi) Pulang
"Jadi, kamu mau ngomong apa? tegang gitu ih" terpaksa aku memulai pembicaraan setelah beberapa menit kami saling diam, mengaduk jus di hadapan masing-masing. Dia mulai mengangkat wajahnya dan menatapku lamat. Aku mendengar ada tarikan nafas yang cukup dalam saat itu. "Kamu dulu pernah bilang bahwa perasaan itu bisa berubah kapan saja, bukan?" Tanyanya, masih dengan menatapku. Tatapan hangat itu. Aku mengangguk pelan. "Kamu juga pernah bilang agar aku mengatakan apa saja yang mengganjal di hatiku, apapun itu, bukan?" lagi, aku mengangguk. Mengiyakan pertanyaan retorisnya. Yang kali ini aku mulai bingung dengan maksud pertanyaannya. Beberapa menit ia hanya diam, tak melanjutkan bicaranya. Ah, aku mulai penasaran. "Lantas?" aku balas menatapnya, lembut. Kemudian samar-samar telingaku mendengar tarikan nafas itu lagi, kali ini lebih dalam. "Sekarang ini, entah mengapa perasaanku padamu tak semembahagiakan ketika di awal dulu...