(Fiksi) Kereta ke Empat
Siang yang cukup terik, jalanan ini lengang, tak banyak kereta yang berlalu lalang, ah, tentu saja ini bukan di jalan raya. Keringatku mulai mengucur, tapi entah, aku bahkan tak merasakan lelah sama sekali meski sudah berjam-jam menyusuri jalanan tanpa tujuan. "maafkan aku" suaranya kembali berkelebat di kepalaku. Kali ini dada kiriku tak senyeri tiga hari lalu ketika ia mengatakannya. Aku sudah hampir mati rasa. "pernikahan kita tiga hari lagi, dan kau mudah sekali membatalkan semuanya lalu bilang maaf?" suaraku meninggi. Entah marah, kecewa, atau perasaan apa yang kala itu kurasakan. "ini lebih baik, sebelum kita terlanjur melangkah bersama sedang hatiku tertinggal di genggamannya." jawabnya, aku ingat betapa sesak rasanya mendengar kalimat semacam itu. "munafik! itu karena kau telah terlanjur menghamili gadis itu, bukan?" aku sempurna menangis, r...