(Fiksi) Cincin Tua
Aku sudah kehabisan akal menolak lamaran laki-laki aneh ini. Berkali-kali kubilang aku telah memiliki pasangan, berkali-kali ia datang berharap aku telah berubah pikiran. Seminggu yang lalu, aku bertemu dengannya di toko perhiasan tempat kakakku bekerja. Lebih tepatnya, dia membuntutiku. Di depan banyak orang dia memaksaku menerima lamarannya, menawarkanku berbagai macam cincin. Gila, dia pikir aku akan terima hanya karena ia kaya? Aku teringat cerita kakakku mengenai cincin turun temurun yang dipakai bosnya di toko tempatnya bekerja. Itu cincin sudah dari zaman neneknya, tak mungkin ada yang masih membuatnya sekarang ini. Jadi aku minta saja dia memberikan cincin persis yang seperti itu, cincin lama, bukan baru. “Aku hanya ingin cincin seperti yang dipakai pemilik toko emas itu, baru aku akan menerimamu. Titik!” Sialnya, dia bahkan tidak menyerah, tanpa kuduga, ternyata dia nekat bertanya pada pemilik toko emas itu. Katanya, saking lawasnya cincin itu bahk...