evaluasi mendalam memang pada akhirnya akan mengembalikan apa yang kita rasa dan kita terima kepada apa yang sudah kita berikan kepada oranglain. tetaplah sederhana :)
Surabaya ternyata tidak sepanas reputasinya. Hahaha Dua hari aku singgah di kota itu, dua hari pula ia diguyur hujan. Aku nggak tau sih dia memang ingin mencoba ramah aja atau kenapa. Tapi toh memang banyak hal tidak langsung menunjukkan wataknya pada perjumpaan pertama. Termasuk manusia. Barangkali kota ini juga. Surabaya nggak ada mirip-miripnya dengan Jogja; tempatku tinggal. Di sini, jalan raya termasuk lapang, transportasi massal lalu lalang, pusat perbelanjaan dan hunian vertikal berbaris macam parade hutan beton. Kalau Jogja seperti seseorang yang mengajakmu duduk berbincang, Surabaya layaknya orang yang berseru; “sing obah tanganne, ora cangkem-e!!” Sebenarnya, aku terbilang mumpuni dalam hal memutus silaturahmi, tapi kali ini berbeda. Nggak tau kenapa. Jadilah sehari sebelumnya aku menghubungi Togok, minta diajak ke tempat yang ikonik dari kota ini, nggak perlu istimewa, sebagaimana Filkop , atau Olive Chicken di Jogja. Yang tidak kubayangkan, ia membawa...
Melihat kawan dekatmu menikah rupanya membawa perasaan yang cukup kompleks. Pernikahan Gandul adalah momen pertama yang membuatku sadar akan perasaan itu. Ada gembira, tentu. Ada haru. Dan sesuatu yang tadinya ingin kusebut ‘sedih’—meski kemudian aku rasa kurang tepat. Barangkali ia hanya kecemasan yang menyamar. Kalau Gandul dipek Majid, aku tanggung jawab siapaa😠Tapi lebih dari itu, melihat bagaimana ia patah dan sembuh secara produktif (alias bola-baliğŸ˜) sampai akhirnya di titik sekarang, rasanya begitu lega. Di kepalaku, ia kawan paling expert soal asmara. Pengalamannya luar biasa, dan seperti yang kita tau, nggak harus selalu berhasil untuk dibilang expert . Kegagalan juga sesuatu yang sah kita sebut pengalaman. Pun memang, nggak semua orang punya sesuatu yang layak dikenang dengan begitu menyakitkan. Meski di depannya aku sering bilang kelakuannya bodoh, ada bagian lain dalam diriku yang memberinya tepuk tangan untuk semua keberanian dan effort nya. Aku ...
Kalau kamu pernah tinggal di Jogja, kamu barangkali setuju bahwa jalanan di kota ini ajaib selepas hujan. Saat basah, entah bagaimana, tiap sudutnya menjelma cermin . Ia memantulkan kelebat-kelebat hari lalu , kadang terang dan bising, kadang muram dan hening. Aku nggak tau gambaran mana yang muncul di kepala Omplong waktu kemarin pulang ke sini, atau mungkin justru nggak ada sama sekali sebab d ia nggak cukup sentimentil perkara begituan. (Oh, aku menyebut kedatangannya dengan ‘pulang’ agar ia tau ia selalu boleh menganggap tempat ini sebagai rumah.) Konon, manusia memang lahir dengan pilihan. Tapi ada yang namanya “ketarik showroom” , istilah Yunani buat orang yang merantau lalu dipaksa pulang. Umumnya, itu nasib yang melekat buat orang-orang yang lahir sebagai anak terakhir. Jaga rumah, ngurus orang tua, melanjutkan bisnis keluarga, atau satu dua alasan lain. Nah, nasib inilah yang menimpa Omplong, kawanku dari...
Nemu tulisan Aan Mansyur, kurang lebih begini; Jika di suatu persimpangan, entah di mana, kau bertemu masa kecilmu sedang duduk bersedih, berapa besar kemungkinan kau masih mengenalinya? Dan, berapa besar kemungkinan dia tidak bertambah sedih—mengetahui kau masa depannya? Aku lupa judul bukunya, yang jelas, Aan Mansyur betul-betul telek kuda.
Comments
tetaplah sederhana :)
We got the same, anyway :')