Malam Jatuh di Surabaya
Surabaya ternyata tidak sepanas reputasinya. Hahaha
Dua hari aku singgah di kota itu, dua hari pula ia diguyur hujan. Aku nggak tau sih dia memang ingin mencoba ramah aja atau kenapa. Tapi toh memang banyak hal tidak langsung menunjukkan wataknya pada perjumpaan pertama. Termasuk manusia. Barangkali kota ini juga.
Surabaya nggak ada mirip-miripnya dengan Jogja; tempatku tinggal. Di sini, jalan raya termasuk lapang, transportasi massal lalu lalang, pusat perbelanjaan dan hunian vertikal berbaris macam parade hutan beton. Kalau Jogja seperti seseorang yang mengajakmu duduk berbincang, Surabaya layaknya orang yang berseru; “sing obah tanganne, ora cangkem-e!!”
Sebenarnya, aku terbilang mumpuni dalam hal memutus silaturahmi, tapi kali ini berbeda. Nggak tau kenapa. Jadilah sehari sebelumnya aku menghubungi Togok, minta diajak ke tempat yang ikonik dari kota ini, nggak perlu istimewa, sebagaimana Filkop, atau Olive Chicken di Jogja.
Yang tidak kubayangkan, ia membawaku ke Madura.
“Yo iki ki Surabaya banget. Awakmu lho gak akan eruh Suramadu nek gak ndek kene” ujarnya.
Aku kaget logat Jogjanya hilang, tapi lebih kaget dengan lompatan berpikirnya. Kupikir, dengan nalar segenius itu, harusnya ia berhenti wira-wiri nggolekke duit start up dan mulai membangun karir di Washington, melu NASA.
Suramadu tampak tenang sekaligus megah. Konon, beton dan besi yang membentang hampir 6 kilo meter ini dibangun oleh 3.500 pekerja—barangkali jauh lebih banyak dari yang direkrut Bandung Bondowoso, meski jangankan semalam, ia bahkan butuh lebih dari satu periode kabinet buat selesai. Melihatnya saat gerimis, dengan pantulan lampu yang bias di kaca helm mengingatkanku pada suasana yang familiar. Apa ya, kayak potongan film Hong Kong lama yang pernah kita tonton tanpa beneran inget apa judulnya. Yang penting Andy Law ganteng.
Kami menyusuri selat Madura itu dengan Vespa yang dibawa Togok dari Jogja. Awalnya, ia bilang ibunya keras menentang, tapi Malin Kundang modern satu ini punya kepala yang lebih keras daripada rasa takut.
“Lapo aku mbayar larang-larang gae ngirem motor, mending tak tumpaki lho karuan aku gak usah tuku tiket…” 😂 Lagi lagi, applause buat logika berpikirnya!
Sampai di tepi Bangkalan, kami langsung putar balik. Beneran nggak ngapa-ngapain dan langsung gas lagi ke Surabaya, cari tempat ngopi. Siapapun boleh bilang ini kegiatan ra jelas, tapi kan kata pepatah, beberapa perjalanan memang bukan untuk sampai, melainkan supaya ada alasan untuk bersama sedikit lebih lama. wkwk anjay😂
Kami ngobrol cukup panjang di sebuah cafe yang nggak kuingat apa namanya, tapi Togok bilang itu tempat hits anak-anak muda Surabaya. Mendengar ia cerita soal pekerjaan dan pertemanannya selama merantau di sini tidak terlalu membuatku takjub. Sudah ketebak. Ia pekerja yang tangkas, manut plus loyal abiez, idaman kapitalis pokoknya. Ia juga tambah aktif komunitas sana-sini, khususnya yang berbau keringat (alias olahraga😋). Tentu begitu. Aku cukup mengenalnya. Positive vibes kalau kata anak sekarang. Aku percaya memang ada jenis makhluk seperti bibit bayam; tau kapan harus menyerap cahaya dan nggak rewel soal tanah. Togok salah satunya. Dilempar kemanapun, akan selalu menemukan cara buat hidup.
Yang berbeda, ia mulai banyak bercerita soal pencarian pasangan. Tema yang dulu jarang kami obrolkan karena mengira masa muda akan panjang dan masih akan ada banyak kolam. Hahaha
Tentu kubagi juga nasib percintaanku yang sama getirnya, sama konyolnya. Aku rasa kalau dijadikan podcast, ‘Badut Ra Pupuran’ adalah judul yang pas. Nantilah kami diskusikan. Intinya, persoalan kami hampir sama; soal pilih-pilih pasangan. Togok bingung karena merasa nggak punya pilihan, aku bingung kerena ra tau kepilih😭😭😭
‘Jadi, Gok…’ kubilang,
‘laki-laki seusia kita saat ini kebanyakan sudah beristri, sisanya nggak doyan perempuan. Dari opsi yang sedikit itu, kalau nemu yang sekiranya klik, kita gas aja duluan. No gengsi-gengsi club! Penolakan, kalau memang datang, sudah pasti hanya bagian dari proses. Alias makin cepat ditolak makin cepat ganti target~’
Sebuah kesimpulan yang teterdengar mantap sekaligus putus asa. Wkwk
Anyway, makasih Togok buat waktunya. Meminjam lirik Silampukau yang lain; bahwa mau di Jogja, Surabaya, Washington atau Paris yang romantis sekalipun, dunia selalu punya celah yang sama soal bahaya dan nestapa. Tapi aku harap di manapun, kamu selalu dikelilingi keberuntungan, sehat, dan punya kesempatan buat banyak bersenang-senang. Sampai ketemu lagi di waktu lain, yaa✨👋🏻
*PS: judul postingan ini aku ambil dari sebuah lagu milik kelompok musik super magis asal Surabaya; Silampukau.
Comments