Posts

Seorang Kawan dari Medan

Kalau kamu pernah tinggal di Jogja, kamu barangkali setuju bahwa jalanan di kota ini ajaib selepas hujan. Saat basah, entah bagaimana, tiap sudutnya menjelma cermin . Ia memantulkan  kelebat-kelebat  hari lalu , kadang  terang dan bising, kadang muram dan hening. Aku nggak tau gambaran mana yang muncul di kepala Omplong waktu kemarin pulang ke sini, atau mungkin   justru  nggak ada  sama sekali sebab   d ia nggak cukup sentimentil perkara begituan. (Oh, aku menyebut kedatangannya dengan ‘pulang’ agar ia tau ia selalu boleh menganggap tempat ini sebagai rumah.) Konon, manusia memang lahir dengan pilihan. Tapi ada yang namanya  “ketarik showroom” , istilah  Yunani  buat orang yang merantau lalu dipaksa pulang. Umumnya, itu nasib yang melekat buat orang-orang yang lahir sebagai anak terakhir.  Jaga rumah, ngurus orang tua, melanjutkan bisnis keluarga, atau satu dua alasan lain.  Nah, nasib inilah yang menimpa Omplong, kawanku dari...
Dibilang very nice sama mbak bosor. Diucapin selamat bulan lahir sama pak kaji, diingetin isi baterai dan hati-hati sama Barci. Motorku diisekke angin, dicek remnya sama Nopi. Dibaleni dari Babarsari ke UPN karna semelang aku ra isa nyebrang. Difotoin candid banyaaakkk sekali sama mbamel karna katanya, kasian aku nggak punya foto. Dibilangin masadi buat bandel-bandelin perasaan biar bertahan. Oh, hari-hari yang manis, dan hangat… Rasa-rasanya, kerap kali aku bilang nggak punya temen tiap bergurau. Padahal kalau menengok ke belakang, momen demi momen, kayaknya aku ni hidup dari teman-temanku. Jahat sekali kalau aku selalu bilang begitu, saat satu-satunya yang bisa aku kasih kembali ialah pengakuan bahwa aku hidup dari mereka. Huhu, sayang banget sama teman-temanku. Semoga mereka semua disayang tuhan dan dikasih banyak yang baik-baik 🥹🍀

Hemingway Si Paling Sial

Setiap mulai ada perasaan kamu dijahati semesta sebab ia menjadikanmu manusia paling sial, ingatlah bahwa barangkali kamu hanya di urutan ke dua. Kamu bukan yang paling sial sedunia. Sebab manusia ultra sial macam apa, selain Hemingway, yang bisa-bisanya kejatahan mengalami dua kali kecelakaan pesawat dalam sekali hidup? Salah satu dari kecelakaan itu bahkan tidak hanya meninggalkan nyeri dan luka di tubuh, tetapi juga merenggut separuh jiwanya.  Kupikir, setidaknya tumbuh dewasa dengan orang tua yang begitu jauh dari konsep parenting kekinian telah melatihnya jadi mahir menghadapi getir. Rupanya, sesering apapun menghadapinya, tiap luka punya sakit yang berbeda. Ia selamat dari maut tetapi hidup dengan membawa rasa sakit kemana-mana. Hari ke hari yang dijalani barangkali cuma soal perpanjangan, bukan hadiah, bukan kemenangan. Ia kerap menulis soal keberanian, soal bertahan, tapi kita taulah, hidup tak selalu berjalan sesuai narasi yang kita bangun sendiri. Pada akhirnya, semesta b...

Dari Aan Mansyur

  Nemu tulisan Aan Mansyur, kurang lebih begini; Jika di suatu persimpangan, entah di mana, kau bertemu masa kecilmu sedang duduk bersedih, berapa besar kemungkinan kau masih mengenalinya? Dan, berapa besar kemungkinan dia tidak bertambah sedih—mengetahui kau masa depannya? Aku lupa judul bukunya, yang jelas, Aan Mansyur betul-betul telek kuda.

Malam Jatuh di Surabaya

Orang bilang, Surabaya adalah kota yang punya ambisi memamerkan terik dengan lantang. Tapi ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sini dan matahari seperti menepi. Bjiirrr, dua hari berturut-turut diguyur hujan. Tapi santai, sih. Barangkali aku dianggap asing dan kota ini cuma pengin terlihat ramah, atau bisa jadi, dia enggan buru-buru kukenali. Toh, kadang kita juga nggak selalu apa adanya pada perjumpaan pertama. Kota ini nggak ada mirip-miripnya dengan Jogja; tempatku tinggal. Di sini, jalan raya termasuk lapang, transportasi massal lalu lalang, pusat perbelanjaan dan hunian vertikal berbaris macam parade hutan beton. Kalau Jogja seperti seseorang yang mengajakmu duduk berbincang, Surabaya layaknya orang yang dengan sinis berseru;  “sing obah tanganne, ora cangkem-e!!” Aku yakin, meski tiap-tiap pekerja punya tekanan dan bebannya sendiri dalam bertahan, Surabaya cukup menjanjikan. Ia punya daya hidup. Di kota seperti ini, ekonomi bergerak layaknya nadi; konsisten dan nyari...

Selamat Buat Pernikahanmu, Ndul!

  Melihat kawan dekatmu menikah rupanya membawa perasaan yang cukup kompleks. Pernikahan Gandul adalah momen pertama yang membuatku sadar akan perasaan itu. Gembira, sedih, dan haru. Sebenarnya, tentu ‘sedih’ adalah frasa yang tidak tepat dirasakan ketika mendapati kabar baik. Barangkali itu adalah wujud lain dari kecemasanku akan kehilangan. Tapi lebih dari itu, aku sungguh turut gembira dan terharu. Melihat bagaimana ia patah dan sembuh secara produktif (alias bola-bali😭) sampai akhirnya di titik sekarang, rasanya begitu lega. Di kepalaku, ia kawan paling  expert  soal asmara. Pengalamannya luar biasa di bidang itu—toh tidak harus selalu mujur untuk dibilang  expert , kekacauanmu pun dihitung pengalaman😋 Meski di depannya aku sering bilang kelakuannya bodoh, ada bagian lain dalam diriku yang memberinya tepuk tangan untuk semua keberanian dan  effort nya. Aku jadi punya prinsip, soal cinta, kita harus  all in !! Kalaupun apes, setidaknya kita bisa menang...
Aku tidak sungguhan ingat apa yang kamu bisikkan waktu itu. Tapi setelahnya, aku berjalan begitu lamban dari malam ke malam, sebab rasanya kesedihan begitu lalu lalang.

Dari Gus Baha (2)

  -Belajar merasakan kalimat kalimat tuhan yang tidak difirmankan. Yang bisa dipahami dengan akal sehat, kepekaan, dan kelembutan hati. Tuhan kan nggak mungkin cuma bilang ke Musa ‘ pukulkan tongkatmu ke laut! ” Pasti ada bagian tuhan bilang ke laut ‘ nanti kalo kena tongkat musa kamu minggir ya!” - Nabi nggak pernah menghukumi hal hal yang sifatnya sosial. Karena sosial itu dinamis, nabi ingin umatnya memakai logika. -Muslim itu kalau merayakan sesuatu, orientasinya sebagai hadiah atas tauhidnya, biar dia inget bahwa islam nggak kalah menyenangkan. Biar inget bahwa ini semua minallah dan akan kembali ilallah.

Tubuh dan Memori

Ajaib sekali bagaimana  tubuh dapat mengingat sesuatu lebih baik dari yang dapat dilakukan otak kita. Otakku bisa memberiku ingatan yang keliru, sepotong-sepotong, bias, atau sederhana; memang denial saja. Tapi tubuhku tidak. Sistem syaraf, hormon, imun, tiap jaringan di tubuhku dapat menyimpan ingatan yang jujur. Barangkali karena tubuh tidak punya kepentingan untuk terlihat baik-baik saja. Ia semesta kecil yang selalu memberi tanda, namun aku sering luput mendengarkannya.

Dari Sabrang MDP (2)

  -Harus menjadi khilafah untuk diri sendiri, tanpa dikontrol orang lain, tanpa tekanan kolektif dari luar. -Mengenali apa yang kamu sukai, apa yang kamu inginkan, bagaimana kamu menjalaninya, bagaimana kamu akan membawa keluargamu. -Manusia terdiri dari campuran serbuk dalam dirinya. Ada serbuk setan, nafsu, tuhan, malaikat, orang lain, dll. Tiap kamu mendengar sesuatu dalam kepalamu berkecamuk, kenali suara dari serbuk yang manakah itu? Apakah itu nafsumu? Keluhan batinmu sendiri? Apakah itu cita-cita murnimu? Apakah itu tuntutan orang di sekitarmu?