(Fiksi) Kereta ke Empat
Siang yang cukup terik, jalanan ini lengang, tak banyak kereta yang berlalu lalang, ah, tentu saja ini bukan di jalan raya. Keringatku mulai mengucur, tapi entah, aku bahkan tak merasakan lelah sama sekali meski sudah berjam-jam menyusuri jalanan tanpa tujuan.
"maafkan aku" suaranya kembali berkelebat di kepalaku. Kali ini dada kiriku tak senyeri tiga hari lalu ketika ia mengatakannya. Aku sudah hampir mati rasa.
"pernikahan kita tiga hari lagi, dan kau mudah sekali membatalkan semuanya lalu bilang maaf?" suaraku meninggi. Entah marah, kecewa, atau perasaan apa yang kala itu kurasakan.
"ini lebih baik, sebelum kita terlanjur melangkah bersama sedang hatiku tertinggal di genggamannya." jawabnya, aku ingat betapa sesak rasanya mendengar kalimat semacam itu.
"munafik! itu karena kau telah terlanjur menghamili gadis itu, bukan?" aku sempurna menangis, rasa kecewa yang meluap-luap justru membuat suaraku melemah.
Lelaki di hadapanku tercengang, ia pasti kaget, ia pasti bingung bagaimana aku bisa mengetahuinya. Rasa sakit itu kembali menusuk dada kiriku, rasa sakit seperti semalam, ketika adikku menceritakan semuanya, menceritakan hubungan gelapnya bersama calon suamiku itu.
Bising suara kereta kembali terdengar, membuatku tersadar dari lamunan. Kuhitung, ini adalah kereta ke empat sejak aku menggelandang di sekitaran sini. Makin kencang, kepala gerbong terlihat makin dekat. Baiklah, semuanya memang harus berakhir, hidupku juga.
-sumber gambar ngga tau, asal nyomot di gugel :p
Comments
hingga kereta ke empat
tersadar dari lamunan
baru saja, seorang ibu tua memegang kencang tanganku dan menyeretku ke dalam sebuah warung di pinggiran dipo. aku marah sekali kepada ibu tua ini. aku berteriak sekencang-kencangnya...
"nduk, kalau mau bunuh diri ya jangan di depan warung simbok. nanti warung simbok ngga laku." pintanya. matanya berkaca-kacanya.
Menjadi gila karna batal nikah itu bisa saja, apalagi waktu sudah dekat dan undangan sudah tersebar ke mana-mana begitu pula catering.
Mengapa ada yang berpikir pernikahan itu seperti kita akan jalan2 dengan kekasih untuk memenuhi janji dan membatalkan begitu saja?!