(Fiksi) Temu Berikutnya
| 9images.com |
Sore yang tenang, satu dua rintik gerimis tampias membasahi kaca bus yang kutumpangi. Alunan lagu-lagu Payung Teduh reflek membuatku lirih bersenandung, ditengah deru mesin yang menyala sejak beberapa menit lalu, nampaknya sang sopir sengaja memanaskan mesinnya sebelum mengantar kami beranjak pulang. Pulang yang nantinya, akan menarikku untuk selalu kembali.
"Suka Payung Teduh juga?" Tanya lelaki yang tiba-tiba ada di hadapanku, aku tidak tahu sejak kapan ia memperhatikan.
"eh, lumayan" jawabku sekenanya, canggung.
"sama dong!” lelaki itu tersenyum lebar, raut wajahnya cukup ramah untuk orang yang baru kenal, bukan mencurigakan, rautnya justru menyenangkan.
"Oh ya?apa yang bikin kamu suka?"
"Ya...karena enak didenger aja, teduh. Kalau kamu? "
"mm....entah, they just stole my heart with their lyrics"
"hahaha apalagi bagian 'Mungkin, tentang, ikan paus dilaut...."
"Atau, mungkin, tentang bunga padi disawah....hahaha" aku--entah bagaimana bisa reflek menyambung nyanyiannya. Aura menyenangkan darinya ternyata begitu saja menular ke diriku.
Tanpa permisi, lelaki ini akhirnya sempurna duduk di kursi kosong sampingku. Aduh, bagaimana ini?
"maaf, kursi ini sudah ada yang menempati. Orangnya sedang turun cari minum" terpaksa, repot aku menyusun kalimat sehalus mungkin agar tidak terkesan mengusir.
"oh, maaf. Sama pacarnya, ya?"
"Iya…maaf juga ya" Ia lantas bergegas mencari kursi kosong di deretan belakang
"Hey, kamu nggak mau minta nomor ponsel atau alamatku?"
"Eh? untuk apa?"
"Barangkali aku bikin kamu jatuh hati dan ke Jogja lagi, biar gampang kalau mau ngajak ketemu" laki-laki itu tertawa usil lalu pergi begitu saja. Ah, selera humornya boleh juga.
***
Ini
kedatanganku ke Jogja yang ketiga kali, tepat di tanggal yang sama
seperti tiga tahun lalu, di terminal yang sama, juga sengaja kupilih bus
yang sama. Bedanya, belakangan aku datang sendiri, aku sudah tak
berkekasih. Sayang, aku tak juga berhasil menemuinya. Lelaki itu, ah,
nampaknya memang tak kan ada temu berikutnya.
"Kucari kamu, dalam setiap jejak…
Seperti aku yang menunggu kabar dari matahari
"
*tamat*
Comments
hati yang lebih dari sekedar teduhnya payung teduh.
dari aku, yang sudah lelah menunggu payungmu untuk terbuka dan kembali mekar.
Kerasa banget perkembangan penulisannya.
Great Ika
Continue the good work!
Check out my web blog: sony online entertainment