(Fiksi) Menjemput Ibu
"Ayah, ini sudah hampir petang, kita pulang, ya?" ini entah yang keberapa kalinya aku mengajak ayah pulang, tapi nampaknya ia belum juga mau beranjak.
"Sebentar lagi, ya. Lagipula malah asyik to nduk kalau kita di sini sampai malam" benar, ayah belum mau pulang.
Padahal sudah sejak pagi aku mengantar ayah ke stasiun untuk
menjemput ibu, tapi ibu tak juga nampak keluar dari gerbong kereta manapun yang
kami perhatikan seharian ini.
"Nduk, dulu, waktu ayah sama ibumu masih muda, ibumu selalu
senang diajak jalan kaki malam-malam. Dia senang lihat lampu-lampu sepanjang jalan." Ayah memulai ceritanya.
Seperti biasa, matanya selalu berbinar ketika bercerita soal ibu.
Sebenarnya ayah sudah sering sekali menceritakan hari-harinya waktu muda bersama ibu, aku sampai hafal, tapi biarlah. Mendengar suara tuanya
bercerita bagiku masih menyenangkan meski ceritanya itu-itu saja.
“Iya ayah, aku juga senang lihat lampu-lampu di malam hari. Indah” Jawabku menanggapi cerita ayah—yang juga kulontarkan tiap ayah bercerita.
“Kamu memang persis ibumu. Senyumnya, lembutnya, seleranya juga. Tapi kalau dulu, lampu-lampu belum seramai dan seterang sekarang. Nanti setelah ibumu sampai, kita ajak dia jalan-jalan ya. Dia pasti makin senang kita jalan-jalannya bertiga” Ayah nampak sumringah, aku mengangguk, tersenyum semanis mungkin. Senyum yang kata ayah, persis milik ibu.
Ini tahun ke-sebelas sejak ibu pamit hendak ke Ibu Kota. Kala itu, usiaku 12 tahun. Ibu pergi untuk membantu ayah mencari biaya sekolahku. Aku sedih saat bersama ayah mengantar ibu ke stasiun, tapi seketika ibu memelukku yang menangis sesenggukan.
“Ibu mau cari uang dulu yang banyak ya nduk…”
Pamitnya sambil mengusap-usap punggungku yang bergetar. Ia berjanji membawakanku uang gambar monyet saat pulang nanti (yang kini aku tau, itu bukan monyet melainkan Orangutan).
Kesedihanku
sedikit terobati, ia tau aku suka sekali menonton acara satwa di TV.
Ah, ibu. Usiaku menginjak 23 tahun sekarang, uang itu bahkan telah hilang dari peredaran.
“Ayah, pulang, ya. Kita jemput ibu besok lagi” ajakku
“Tapi nduk, kalau nanti ibu sampai dan kita pulang duluan, ibumu pasti sedih, dikiranya kita lupa jemput”
“ndak yah, kalau ibu sudah mau sampai pasti ibu kasih kabar, nanti kita jemput ibu lagi” aku mulai menggamit lengan ayah, ini sudah hampir petang, ayah harus pulang.
“Sebentar to, lima menit lagi, ya?” baiklah, aku mengalah.
Memberi waktu ayah menunggu ibu beberapa menit lagi. Memberi ayah waktu—untuk barangkali
bisa mengingat, bahwa sepuluh tahun lalu, tepat setahun setelah ibu merantau ke Jakarta, ibu telah pulang menjenguk kami lalu pergi lagi dan tak akan pernah kembali kemari. Ya, ibu pulang, meski tak menepati janjinya. Tak ada uang bergambar Orangutan yang ia bawa, melainkan berlembar-lembar kertas kehijauan dengan gambar pak presiden sedang tersenyum. Aneh. Senyum itu, jenis senyum yang sama seperti milik ibu belakangan. Senyum ibu tak lagi sama seperti milikku.
Ibu juga pulang membawa kejutan untuk ayah.
Ia membawa lelaki barunya, juga surat cerai. Ibu telah menemukan laki-laki yang katanya bisa membuatnya lebih bahagia. Laki-laki yang bisa mengajaknya menikmati kerlip
lampu kota dengan mobil dan suasana hangat, bukan dengan berjalan kaki.
Aku membuang semua yang ibu bawakan. Uang, juga mainan. Aku tidak mau menerimanya. Toh ibupun sudah membuangku dan ayah. Membuang keluarganya. Ibu pergi, entah kemana bersama lelaki barunya. Dan ayah, ayah sangat terpukul. Bertahun-tahun ayah tak juga bisa merelakan ibu.
Setiap tahun, tepat di hari
ibu pulang bersama lelakinya kala itu, ayah pergi ke stasiun, menjemput ibu—katanya.
“Ayah, sudah lima menit, kita harus pulang, yah.” Kali ini aku sedikit memaksa dengan menarik lengan ayah, kata dokter, ayah tak boleh telat minum obat. Bukan agar ingatannya pulih, setidaknya, agar penyakit ayah tak bertambah parah.
Ayah akhirnya menurut, kamipun beranjak, kugandeng lengan ayah sembari menyembunyikan air mata yang mulai merembas di sudut mataku. Ibu tak akan pernah pulang, yah. Seindah apapun kenangan bersamanya di ingatan ayah, mantan Istrimu tak akan pernah pulang.
Fiksi ini diikut sertakan dalam Give Away dari mas Aditya Regas bertema "mantan".

Comments
Good luck dengan giveaway nya (y)
suksees yaaaa
semoga sukses, ka, GAnya ^^
ga tega sama bapanya
semoga kita menang :D *ceritanya saingan buat menangin GAnya adit*
allahuma aamiin trimakasih nilam :)
here. The sketch is tasteful, your authored material stylish.
nonetheless, you command get bought an impatience over that you
wish be delivering the following. unwell unquestionably come further formerly again since exxactly the same nearly very often inside case you shield this
hike.
Also visit my site - Jungle Heat Diamond Hack