Bekas Luka
Di tubuhku, hampir tidak ada bekas luka yang kudapat karena terjatuh saat bermain atau terluka karena ceroboh. Sebenarnya, saat kecil aku memang tak punya kesempatan terluka dengan alasan seperti itu.
Saat dewasa, saat aku sama sehatnya dengan yang lain, aku mulai punya luka di sana sini yang bekasnya tak dapat benar-benar hilang, tentu saja itu yang terjadi ketika bagian tubuhmu koyak saat usiamu tak lagi di masa pertumbuhan.
Aku sempat berpikir kalau aku punya banyak uang, aku akan memanfaatkan teknologi laser kulit untuk menghilangkan bekas-bekas luka itu, sebagaimana kini tak lagi ada bekas tatto di dada Nikita Mirzani.
Karena tak kunjung punya banyak uang, mau tak mau pikiran untuk melakukan laser kulit itu saja yang aku hilangkan.
Ada dua bekas luka di lutut kananku, aku jatuh di rawa saat mamak menyuruhku membuang sampah dan bapak memintaku pergi beli tahu.
Luka di lutut kiri serta bagian punggung kaki, adalah kenang-kenangan dari Solo saat aku berkendara sendirian jam sepuluh malam, atau anggaplah itu sebenarnya kenang-kenangan dari mbah kakung yang mangkat keesokan paginya. Dari saat jatuh sampai sekarang, luka itu tak pernah benar-benar terasa sakit.
Luka baret di lengan kiriku, adalah balasan dari kucing liar yang geram karena di tengah perkelahian, aku menarik dan menggendong si musuh yang kalah, sebab kucing gemuk itu hanya jago makan dan tidur sama sepertiku, pemiliknya.
Aku mulai suka pada bekas-bekas luka itu. Melihatnya membuat aku berpikir setidaknya aku telah melakukan sesuatu.
Kini, saat ia datang, saat ia mulai membuat keributan-keributan di kepalaku dan membuatku menarik diri, aku tak lagi menangis sendirian di dalam kamar. Tentu saja aku masih menangis, tapi perasaan sendirian itu berkurang, aku menangis bersama bekas-bekas luka itu, bersama perasaan ‘telah melakukan sesuatu’.
Meski ia datang dan pergi, meski barangkali ia tak punya akhir, aku mulai yakin ada saatnya nanti, aku bisa menemukan cara untuk bisa menerimanya. Sebagaimana aku bisa menerima luka di tubuhku.
Comments