Posts

Showing posts from 2022

Dari Gus Baha (2)

  -Belajar merasakan kalimat kalimat tuhan yang tidak difirmankan. Yang bisa dipahami dengan akal sehat, kepekaan, dan kelembutan hati. Tuhan kan nggak mungkin cuma bilang ke Musa ‘ pukulkan tongkatmu ke laut! ” Pasti ada bagian tuhan bilang ke laut ‘ nanti kalo kena tongkat musa kamu minggir ya!” - Nabi nggak pernah menghukumi hal hal yang sifatnya sosial. Karena sosial itu dinamis, nabi ingin umatnya memakai logika. -Muslim itu kalau merayakan sesuatu, orientasinya sebagai hadiah atas tauhidnya, biar dia inget bahwa islam nggak kalah menyenangkan. Biar inget bahwa ini semua minallah dan akan kembali ilallah.

Tubuh dan Memori

Ajaib sekali bagaimana  tubuh dapat mengingat sesuatu lebih baik dari yang dapat dilakukan otak kita. Otakku bisa memberiku ingatan yang keliru, sepotong-sepotong, bias, atau sederhana; memang denial saja. Tapi tubuhku tidak. Sistem syaraf, hormon, imun, tiap jaringan di tubuhku dapat menyimpan ingatan yang jujur. Barangkali karena tubuh tidak punya kepentingan untuk terlihat baik-baik saja. Ia semesta kecil yang selalu memberi tanda, namun aku sering luput mendengarkannya.

Dari Sabrang MDP (2)

  -Harus menjadi khilafah untuk diri sendiri, tanpa dikontrol orang lain, tanpa tekanan kolektif dari luar. -Mengenali apa yang kamu sukai, apa yang kamu inginkan, bagaimana kamu menjalaninya, bagaimana kamu akan membawa keluargamu. -Manusia terdiri dari campuran serbuk dalam dirinya. Ada serbuk setan, nafsu, tuhan, malaikat, orang lain, dll. Tiap kamu mendengar sesuatu dalam kepalamu berkecamuk, kenali suara dari serbuk yang manakah itu? Apakah itu nafsumu? Keluhan batinmu sendiri? Apakah itu cita-cita murnimu? Apakah itu tuntutan orang di sekitarmu?

Rokok Mengikatmu

Seorang kawan nanya buat pemula enaknya rokok apa? Aduh, fren, kalau kamu nggak ngerokok, sudah betul, ngga usah nyobain. Atau, kalau kamu keukeuh dan merasa kamu bakal bisa mengontrol diri, kamu harus paham kata ‘kecanduan’. Dia mengikat, nggak sama kayak kebiasaanmu makan gorengan atau jajan boba. Aku berulang kali nanya ke diri sendiri kenapa aku merokok dan nggak pernah nemu alesannya, satu-satunya jawaban paling kuat, ya memang cuma karena badanku terlanjur butuh nikotinnya buat rekreasi. Aku terima itu, tapi juga sadar betul alasan itu nggak akan sebanding sama resiko yang bisa jadi harus aku hadapi nanti-nanti.

Genetik Menurunkan Trauma

Apa yang ada di tubuh kita, termasuk traumanya, bukan cuma turunan dari ayah ibu, tetapi bisa potongan-potongan dari generasi jauh sebelum kita. Misalnya, secara alamiah, beberapa manusia takut gelap atau takut ketinggian. Bisa jadi dia nggak bisa nyebutin pengalaman buruk apa yang pernah dia alami sampai bikin dia takut. Tanpa ada yang ngajarin, dari kecil manusia tau berada dalam kegelapan atau ketinggian itu suatu kondisi bahaya. Yang kayak gitu bisa jadi adalah bentuk trauma yang diturunkan, barangkali pada suatu masa pas evolusi, simbahmu disruduk macan peteng-peteng atau tiba seka njurang pas berburu kidhang. Salah satu yang aku belum nemu jawabannya tapi penasaran banget adalah, kenapa aku takut banget sama isilop wkwkwk
  Kalau kamu mengalami luka ringan, otak ngeluarin hormon kebahagiaan buat coping perasaan stress dan panikmu. Namanya oxitosin. Itulah kenapa beberapa orang merasa makan yang pedes-pedes itu nyenengin dan nagih. Kandungan Palacid dari biji cabe, bikin otak ‘mengira’ lidahmu terbakar. Makin kamu kepedesan, makin banyak oxitosin yang diproduksi otakmu—makin kamu ingin terus melakukannya. Kalau kamu nggak habis pikir ngapain orang bisa-bisanya self harm, mungkin mekanisme itu bisa sedikit ngasih kamu gambaran. Menurutku pilihannya dua, kita mau peduli atau cuek sekalian. Bukan julid.

Harapan Palsu Buat Si Rentan

Ngomong-ngomong, ada satu   scene  yang nempel banget di kepalaku pas nonton   season   awal Peaky Blinders. Tom Shelby, yang masih jadi bandar judi, ngobrol sama temennya yang kumuniz. Dengan  setting  tahun segitu, nggak aneh sih kalau mereka sama-sama buron, cuman temennya bingung, kok bisa komunis sama bandar judi namanya ada dalam satu  list ? Padahal itu bentuk pelanggaran hukum yang menurutnya berbeda.  Tom ngangkat sloki sambil nyeletuk; “ Kayaknya karna kita sama-sama tukang ngasih harapan palsu ke orang miskin” Wkwk bjiiir lah mulutnya Tom😂 Tapi kalau dipikir-pikir, kayaknya aku ketawa karna ada perasaan ‘lah iya juga’ deh pas denger. Orang miskin selalu jadi pasar buat janji manis. Katanya revolusi, katanya kesetaraan, katanya, kalau kamu punya cukup keberuntungan, hidup bisa berubah dalam satu malam. Dua hal itu, sama-sama macam orang yang menepuk bahu rentan kita trus bilang “udah percaya aja, besok akan lebih baik!” Pada akhirnya, j...
Aku lupa banget nemu dimana tapi tiba-tiba merasa harus tak tulis. Kata Bukowski, mending kita udahanlah nyari-nyari yang sesuai mimpi, paling nggak, dapet yang bukan mimpi buruk aja harusnya cukup.

Pamplona

Di season terakhir Money Heist, Matias Cano minta dikasih nama kota juga kayak yang lain, biar keren dan nggak kayak rampok magang . Pas ditanya mau nama apa, dia nyebut ‘Pamplona’—yang lantas diketawain karena, buat perampok, penyebutannya jauh dari kesan garang.  Tapi dia keukeuh, katanya, itu tempat keren. Festival adu banteng paling meriah adanya di sana. Tempat orang berlari dan bersorak. Kehidupan yang brutal, tapi indah. Hemingway, di novelnya yang berjudul “Fiesta” juga pakai kota itu buat latar. Dia menjadikan kota ini ruang  pelarian buat tokoh-tokohnya yang terluka oleh perang, cinta yang sial, dan maskulinitas yang rombeng. Itu kota tempat luka batin dipoles jadi perayaan. Tempat orang-orang sadar kalau apapun yang kita alami, besok tetap harus bangun. Fiesta; dan matahari pun terbit .
Setiap hari selalu bersyukur dikasih hidup yang enak begini. Masih sehat, ora nangisan, punya pekerjaan, teman-teman yang menerimaku—yang rajin memberi kabar meski baru akan terbalas dua hari kemudian, bisa makan apa-apa yang dipingini, tinggal di rumah rasah mbayar kos, wira-wiri numpak vario ra kudu nyicil wong dicepakke bapak, masiyo langganan nyurung karena hobiku kentekan bensin. Puji gusti, puji gusti  ✨

Menikah Dengan Bantal

  “ Mungkin hidup semua orang, akan lebih mudah jika kita boleh menikah dengan bantal yang menyangga kepala kita tiap malam” —kata Norman Erikson, di bukunya yang aku lupa apa judulnya. Ya, kuharap semua orang, termasuk kamu dan aku, menemukan ia yang turut mengamini doa-doa, menyimpan aroma shampoo yang kita sukai, merindukan kita di siang hari, menyerap keringat, liur, dan air mata, sambil berbisik ke telinga kita di malam yang murung;  ‘berbahagialah...berbahagialah’ .

Dari Sabrang MDP

  -Hidup itu kalau nggak bisa mencapai apa apa yang penting survive. - Sarikh-eksplisit. Dahulukan amalan yang sarikh: qur’an, hadits (sholat, zakat) baru yang riwayat (ngasih minum anjing, nyingkirin duri) -Mengumpulkan uang buat memfasilitasi pergerakan itu konsep sederhana, mudah. Yang sulit bagaimana tiap orang tergerak melakukannya dengan tangan sendiri. -Harus membuat batasan buat diri sendiri. Mau sejauh mana. Biar tau kamu melakukannya karna pilihan atau cuma keseret.

Tamasya Kota

Barusan dengerin (lebih tepatnya sambil nonton, karena aku memutarnya dari kanal Youtube) seniman nyanyi dengan sederhana tapi manis sekali lirik dan iramanya. Lagu yang menurutku melankolis, tapi dia berhasil menyanyikannya dengan cara yang riang.  Nama musisinya Jon Kastella, kalau nggak salah, judul lagunya Tamasya Kota. Saat menulis ini aku malas buat googling lagi. Wkwk Lagu ini terntang seorang ayah yang ngajak anaknya jalan-jalan, ngeliat kota dan gedung-gedung. Aku nggak ngerti musik, tapi membayangkan adegan tersebut rasanya hangat sekali, itu modal yang sudah cukup buatku bilang lagunya bagus. Hahaha Ajaibnya, lagu ini kayak ngasih liat kalau yang sedang berjalan bukan cuma kaki, tapi juga waktu. Di sini, Jon sama sekali nggak terdengar ingin menggurui. Nggak ada petuah atau pesan moral yang dia paksa kita tangkap. Ya.. nyanyi aja dia. Genjreng aja. Semua jadi terasa macam seorang yang berkata;  “ayo ikut, nanti juga kamu ngerti.” Apalagi bagian si Bapak ngomong ke a...

dari Pandji Pragiwaksono

  "Nggak adil kalau kamu nggak membiarkan orang hidup dengan apa yang ia punya saja."

Dari Gus Baha

-Allah tau kita dhaif. Kesalahan kita nggak ditambah tambahi. Kalau pemabuk, ya dosa mabuk, bukan lantas ‘kamu kafir kamu memusuhi allah’! Manusia nggak diajak jadi tuhan tapi pingin ikut geger melulu sama dosa orang. -kebaikan dinilai 10, kesalahan dinilai 1. Tapi kebaikan itu berat karna banyak syaratnya, kalau kesalahan, enteng, nggak iklas aja tetep diacc Itulah fungsinya ibadah harus istiqomah dan hati-hati, karena amalan amalan yang susah payah iru kalo mau ngerusak gampang banget. - Bentuk perlawanan paling keren terhadap setan itu seneng melakukan hal hal baik walaupun berat. Sehingga setan nggak bisa hasut kita buat cari kesenangan dengan maksiat.