Tamasya Kota

Barusan dengerin (lebih tepatnya sambil nonton, karena aku memutarnya dari kanal Youtube) seniman nyanyi dengan sederhana tapi manis sekali lirik dan iramanya. Lagu yang menurutku melankolis, tapi dia berhasil menyanyikannya dengan cara yang riang. Nama musisinya Jon Kastella, kalau nggak salah, judul lagunya Tamasya Kota. Saat menulis ini aku malas buat googling lagi. Wkwk

Lagu ini terntang seorang ayah yang ngajak anaknya jalan-jalan, ngeliat kota dan gedung-gedung. Aku nggak ngerti musik, tapi membayangkan adegan tersebut rasanya hangat sekali, itu modal yang sudah cukup buatku bilang lagunya bagus. Hahaha
Ajaibnya, lagu ini kayak ngasih liat kalau yang sedang berjalan bukan cuma kaki, tapi juga waktu.

Di sini, Jon sama sekali nggak terdengar ingin menggurui. Nggak ada petuah atau pesan moral yang dia paksa kita tangkap. Ya.. nyanyi aja dia. Genjreng aja. Semua jadi terasa macam seorang yang berkata; “ayo ikut, nanti juga kamu ngerti.”

Apalagi bagian si Bapak ngomong ke anaknya “sungguhlah kita pernah ada di sini” itu paling ngena di aku.


Kita selalu punya ingatan terhadap sebuah tempat. Barangkali justru ada hal-hal yang melekat. Tapi bagi tempat tersebut, bisa jadi kita ini, manusia, hanya anonimitas yang berkelebat. Tempat-tempat itu tidak pernah benar-benar mengingat kita. Kita datang, berjalan di trotoar yang sudah dilewati ribuan orang lain, dan pergi tanpa meninggalkan tanda apapun. Tidak ada bangku yang mengingat berat tubuh kita, tidak ada persimpangan yang tau hendak kemana kita setelahnya.

Tapi toh, seperti kata si Bapak, ingatan yang kita punya sudah cukup. Kita pernah di sini.

Kita sungguh pernah ada di sini sama-sama—dan mungkin, itu sudah cukup.

Comments