Posts

Showing posts from 2025

Seorang Kawan dari Medan

Kalau kamu pernah tinggal di Jogja, kamu barangkali setuju bahwa jalanan di kota ini ajaib selepas hujan. Saat basah, entah bagaimana, tiap sudutnya menjelma cermin . Ia memantulkan  kelebat-kelebat  hari lalu , kadang  terang dan bising, kadang muram dan hening. Aku nggak tau gambaran mana yang muncul di kepala Omplong waktu kemarin pulang ke sini, atau mungkin   justru  nggak ada  sama sekali sebab   d ia nggak cukup sentimentil perkara begituan. (Oh, aku menyebut kedatangannya dengan ‘pulang’ agar ia tau ia selalu boleh menganggap tempat ini sebagai rumah.) Konon, manusia memang lahir dengan pilihan. Tapi ada yang namanya  “ketarik showroom” , istilah  Yunani  buat orang yang merantau lalu dipaksa pulang. Umumnya, itu nasib yang melekat buat orang-orang yang lahir sebagai anak terakhir.  Jaga rumah, ngurus orang tua, melanjutkan bisnis keluarga, atau satu dua alasan lain.  Nah, nasib inilah yang menimpa Omplong, kawanku dari...
Dibilang very nice sama mbak bosor. Diucapin selamat bulan lahir sama pak kaji, diingetin isi baterai dan hati-hati sama Barci. Motorku diisekke angin, dicek remnya sama Nopi. Dibaleni dari Babarsari ke UPN karna semelang aku ra isa nyebrang. Difotoin candid banyaaakkk sekali sama mbamel karna katanya, kasian aku nggak punya foto. Dibilangin masadi buat bandel-bandelin perasaan biar bertahan. Oh, hari-hari yang manis, dan hangat… Rasa-rasanya, kerap kali aku bilang nggak punya temen tiap bergurau. Padahal kalau menengok ke belakang, momen demi momen, kayaknya aku ni hidup dari teman-temanku. Jahat sekali kalau aku selalu bilang begitu, saat satu-satunya yang bisa aku kasih kembali ialah pengakuan bahwa aku hidup dari mereka. Huhu, sayang banget sama teman-temanku. Semoga mereka semua disayang tuhan dan dikasih banyak yang baik-baik 🥹🍀

Hemingway Si Paling Sial

Setiap mulai ada perasaan kamu dijahati semesta sebab ia menjadikanmu manusia paling sial, ingatlah bahwa barangkali kamu hanya di urutan ke dua. Kamu bukan yang paling sial sedunia. Sebab manusia ultra sial macam apa, selain Hemingway, yang bisa-bisanya kejatahan mengalami dua kali kecelakaan pesawat dalam sekali hidup? Salah satu dari kecelakaan itu bahkan tidak hanya meninggalkan nyeri dan luka di tubuh, tetapi juga merenggut separuh jiwanya.  Kupikir, setidaknya tumbuh dewasa dengan orang tua yang begitu jauh dari konsep parenting kekinian telah melatihnya jadi mahir menghadapi getir. Rupanya, sesering apapun menghadapinya, tiap luka punya sakit yang berbeda. Ia selamat dari maut tetapi hidup dengan membawa rasa sakit kemana-mana. Hari ke hari yang dijalani barangkali cuma soal perpanjangan, bukan hadiah, bukan kemenangan. Ia kerap menulis soal keberanian, soal bertahan, tapi kita taulah, hidup tak selalu berjalan sesuai narasi yang kita bangun sendiri. Pada akhirnya, semesta b...

Dari Aan Mansyur

  Nemu tulisan Aan Mansyur, kurang lebih begini; Jika di suatu persimpangan, entah di mana, kau bertemu masa kecilmu sedang duduk bersedih, berapa besar kemungkinan kau masih mengenalinya? Dan, berapa besar kemungkinan dia tidak bertambah sedih—mengetahui kau masa depannya? Aku lupa judul bukunya, yang jelas, Aan Mansyur betul-betul telek kuda.

Malam Jatuh di Surabaya

Orang bilang, Surabaya adalah kota yang punya ambisi memamerkan terik dengan lantang. Tapi ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sini dan matahari seperti menepi. Bjiirrr, dua hari berturut-turut diguyur hujan. Tapi santai, sih. Barangkali aku dianggap asing dan kota ini cuma pengin terlihat ramah, atau bisa jadi, dia enggan buru-buru kukenali. Toh, kadang kita juga nggak selalu apa adanya pada perjumpaan pertama. Kota ini nggak ada mirip-miripnya dengan Jogja; tempatku tinggal. Di sini, jalan raya termasuk lapang, transportasi massal lalu lalang, pusat perbelanjaan dan hunian vertikal berbaris macam parade hutan beton. Kalau Jogja seperti seseorang yang mengajakmu duduk berbincang, Surabaya layaknya orang yang dengan sinis berseru;  “sing obah tanganne, ora cangkem-e!!” Aku yakin, meski tiap-tiap pekerja punya tekanan dan bebannya sendiri dalam bertahan, Surabaya cukup menjanjikan. Ia punya daya hidup. Di kota seperti ini, ekonomi bergerak layaknya nadi; konsisten dan nyari...